Seberangi Sungai, Kawal Demokrasi — Cerita Pengawas Bawaslu Way Kanan di Balik Distribusi Kotak Suara Pemilu 2024
|
Way Kanan — Tidak semua cerita pengawasan pemilu lahir dari ruang rapat atau kantor yang nyaman. Sebagian darinya lahir di tepi sungai, di bawah terik matahari, di tengah medan yang tidak mudah dijangkau — dan itulah yang dialami oleh jajaran pengawas Bawaslu Kabupaten Way Kanan ketika mengawal pendistribusian kotak suara ke Desa Negeri Kasih, Kabupaten Way Kanan pada Pemilu 2024. Untuk mencapai desa yang terpisah oleh aliran sungai itu, tidak ada pilihan lain — kotak suara harus diseberangkan melintasi sungai, dan pengawas Bawaslu harus ikut menyeberang bersama untuk memastikan setiap kotak suara tiba dengan selamat, tersegel, dan dalam kondisi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Inilah salah satu jejak pengawasan yang jarang tersorot — sebuah kisah nyata tentang dedikasi tanpa batas yang ditunjukkan jajaran Bawaslu Way Kanan dalam menjaga kemurnian setiap suara rakyat, bahkan ketika jalan yang harus ditempuh bukan jalan yang mudah.
Pendistribusian logistik pemilu — termasuk kotak suara — merupakan salah satu tahapan yang paling krusial dan rawan dalam penyelenggaraan pemilu. Di sinilah potensi pelanggaran bisa saja terjadi apabila tidak diawasi dengan ketat — mulai dari kerusakan logistik dalam perjalanan, keterlambatan distribusi yang bisa mengganggu jalannya pemungutan suara, hingga potensi manipulasi terhadap kotak suara sebelum tiba di TPS tujuan. Oleh karenanya, Bawaslu Way Kanan memandang pengawasan distribusi logistik sebagai bagian yang tidak boleh terlewat dalam rantai pengawasan pemilu yang menyeluruh.
Ketika petugas distribusi mengangkut kotak suara menyeberangi sungai menuju Desa Negeri Kasih, jajaran pengawas Bawaslu Way Kanan tidak memilih untuk menunggu di seberang. Mereka ikut menyeberang — memastikan kotak suara tidak rusak, tidak tertukar, dan tidak mengalami gangguan apapun dalam perjalanan yang penuh tantangan tersebut. Setiap detail proses penyeberangan dicatat dalam Form A Pengawasan sebagai rekaman jejak yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kondisi geografis Desa Negeri Kasih yang terpisah oleh aliran sungai menjadi tantangan tersendiri dalam distribusi logistik pemilu — namun bagi jajaran Bawaslu Way Kanan, tantangan geografis tidak pernah menjadi alasan untuk menarik diri dari kewajiban pengawasan. Justru kondisi itulah yang mempertegas bahwa komitmen Bawaslu Way Kanan dalam mengawal setiap tahapan pemilu benar-benar nyata dan tidak hanya berlaku di wilayah yang mudah dijangkau.
Ketua Bawaslu Kabupaten Way Kanan, Sukindra Rahayu, mengungkapkan bahwa kisah pengawasan di Desa Negeri Kasih merupakan salah satu momen yang paling membekas dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh jajaran Bawaslu Way Kanan.
“Apa yang dilakukan pengawas kami di Desa Negeri Kasih adalah bukti nyata bahwa bagi kami, tidak ada medan yang terlalu berat untuk dihadapi demi memastikan setiap suara rakyat terjaga dengan baik. Menyeberangi sungai demi mengawal satu kotak suara mungkin terlihat sederhana — tapi di situlah letak kemuliaan tugas pengawas pemilu yang sesungguhnya,” ujar Sukindra Rahayu.
Ia juga menegaskan bahwa kisah seperti ini adalah pengingat penting bagi seluruh jajaran Bawaslu Way Kanan bahwa pengawasan pemilu yang berkualitas menuntut lebih dari sekadar kehadiran formal — ia menuntut keberanian, ketangguhan, dan ketulusan yang tidak padam oleh tantangan apapun di lapangan.
“Cerita dari Desa Negeri Kasih ini kami jadikan inspirasi dan semangat bagi seluruh jajaran — bahwa tugas kita bukan sekadar mengisi absensi kehadiran di TPS. Tugas kita adalah benar-benar hadir, benar-benar mengawal, dan benar-benar memastikan bahwa tidak ada satu celah pun yang membiarkan proses pemilu berjalan di luar koridor yang seharusnya. Apapun tantangannya, kita hadapi bersama,” tegasnya.
Pemilu 2024 telah berlalu dan menjadi bagian dari sejarah perjalanan demokrasi Kabupaten Way Kanan. Namun jejak yang ditinggalkan oleh para pengawas yang rela menyeberangi sungai demi sebuah kotak suara di Desa Negeri Kasih akan terus dikenang sebagai teladan nyata tentang arti pengabdian yang sesungguhnya — bahwa demokrasi yang bersih dan berintegritas tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari keberanian dan kegigihan mereka yang rela berjuang di garis terdepan meski tidak ada yang menyaksikan.