Lekat Rizwan: Politik Uang Adalah Akar Rusaknya Demokrasi dan Masa Depan Bangsa
|
Way Kanan — Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran Bawaslu Kabupaten Way Kanan, Lekat Rizwan, menegaskan bahwa politik uang merupakan salah satu ancaman paling serius bagi keadilan dan integritas Pemilu maupun Pilkada di Indonesia.
Menurutnya, praktik politik uang tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak sendi-sendi demokrasi serta mengorbankan masa depan masyarakat dan daerah.
“Politik uang itu ibarat racun dalam demokrasi. Mungkin efeknya tidak langsung terasa hari ini, tapi dampaknya bisa bertahun-tahun. Dari pembangunan yang tersendat, kebijakan yang tak berpihak ke rakyat, sampai munculnya pemimpin yang koruptif,”
tegas Lekat Rizwan, Rabu (6/8).
Ia menjelaskan bahwa politik uang berdampak luas, mulai dari masyarakat, daerah, proses pemilu, hingga kepercayaan publik terhadap lembaga negara. Banyak calon kepala daerah atau legislatif yang akhirnya tersandera kepentingan karena harus “mengembalikan modal politik” setelah terpilih.
“Ketika seseorang membeli suara rakyat, maka orientasinya bukan lagi pelayanan publik, tapi bagaimana mengembalikan biaya politiknya. Dari situ lahir kebijakan yang tidak pro-rakyat, bahkan praktik korupsi,”
tambahnya.
Lekat menilai bahwa politik uang juga menciptakan ketimpangan dan persaingan tidak sehat antar peserta pemilu. Calon yang memiliki modal besar cenderung diuntungkan, sementara calon yang jujur dan berintegritas sering kali kalah oleh uang.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa baik pemberi maupun penerima politik uang dapat dijatuhi sanksi pidana, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada.
“Masyarakat sering lupa, menerima uang juga bisa dipidana. Jadi bukan hanya yang memberi. Ini penting disadarkan agar rakyat berani menolak politik uang dalam bentuk apa pun,”
ujar Lekat.
Menutup pernyataannya, Lekat Rizwan mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama pemilih muda, untuk berani menolak segala bentuk iming-iming materi menjelang pemilu.
“Mari kita jaga Way Kanan tetap bersih dari politik uang. Jangan jual suara dengan harga murah, karena masa depan daerah ini terlalu mahal untuk ditukar dengan amplop sesaat,”
tutupnya.
Penulis dan Editor: Nurul Azmi